Aspirasi Itu Ditanggapi DPR

10:05:00 AM


Suasana KM ITB dalam perjalanan dari Parkir Timur Senayan ke Gedung DPR
Menyambut Hari Kebangkitan Nasional, 19 Mei yang lalu KM ITB menyampaikan tiga tuntunan utama :
  1. Menolak Pengesahan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak sebelum adanya sistem dan mekanisme yang jelas mengenai tindakan paska pengampunan pajak,dan reformasi pajak secara umum
  2. Menuntut supaya DPR RI menggunakan Hak Angketnya untuk membentuk Pansus KCIC (Kereta Cepat Indonesia-China) dalam rangka menyelidiki berbagai pelanggaran yang terjadi 
  3. Menuntut pembahasan Revisi Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba supaya tidak bertentangan dengan Hilirisasi dan Undang-undang nomor 22 tahun 2001 tentang Migas tidak bertentangan dengan semangat Nasionalisasi 
Credit: https://www.facebook.com/notes/mahardhika-zein/jurnal-aksi-19-20-mei-2016/10153405737545194

KM ITB turun ke jalan. Benar-benar turun ke jalan dengan membawa megafon, spanduk berisikan tuntutan yang dibawa, nyayian-nyanyian serta orasi, puisi dan teatrikal di depan gedung DPR RI. Perwakilan KM ITB berangkat sejak pagi hari dari Bandung bersama-sama untuk menuju gedung perwakilan rakyat di Ibukota. Selain KM ITB, beberapa perwakilan BEM universitas turut meramaikan dan mendukung tiga tuntutan utama dari KM ITB.

Setelah bernegosiasi dengan humas, di waktu setelah jam istirahat makan siang beberapa perwakilan dari kami masuk ke Gedung DPR. Perwakilan KM ITB diisi 8 orang yang terdiri dari Kabinet KM ITB, Kongres (Senator), Kahim serta perwakilan UPI. Saya termasuk dari 8 orang yang beruntung untuk ikut masuk ke dalam bersama 7 teman lainnya. 7 orang lainnya adalah Dhika (Presiden KM ITB), Luthfi (Menko Sospol Kabinet KM ITB), Fadhil (Ketua HMP 'Pangripta Loka'), Yacho (Senator HIMA TG 'Terra'), Hafiz (Perwakilan UPI), Bayu (Ketua Pers Mahasiswa ITB), dan Adi (Anggota Biasa KM ITB).

Saat pertama kali masuk, kami diantarkan oleh humas melalui semacam jalur pejalan kaki. Di awal, salah satu perwakilan dari kami menitipkan kartu identitasnya untuk digantikan dengan visitor nametag. Setelah jalan kaki pada titik tertentu, akhirnya kami diantar dengan mobil PAMDAL (Pengamanan Dalam) DPR ke gedung nusantara 1.

Mobil PAMDAL DPR yang mengantar kami

Kami masuk ke gedung DPR dengan roadshow ke fraksi-fraksi yang ada. Utamanya, di dalam gedung DPR pada saat itu kami ingin memperjuangkan masalah tax amnesty. Karena mendadak, kami hanya sempat mengunjungi tiga fraksi yang ada di DPR. Menurut bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami ajak diskusi pada saat roadshow fraksi, kami bisa mengatur jadwal dengan beliau-beliau ini dari jauh hari sehingga diterima dengan lebih baik. Di salah satu fraksi, menurut mereka ruang rapat utamanya telah dipakai oleh orang yang memberikan aspirasi mengenai tembakau, jadi mereka hanya menerima kami di ruangan yang lebih kecil (yang bagi saya masih cukup besar untuk menampung kami yang hanya ber-8).

Salah satu fraksi yang menerima aspirasi dari KM ITB
Fraksi lain yang kami datangi di DPR
Pada setiap fraksi, kami mengulang penyampaian aspirasi secara lisan dan memberikan salinan draft tuntutan KM ITB terkait masalah tax amnesty. Secara umum, setiap fraksi yang kami kunjungi di DPR menanggapi dengan serius aspirasi yang kami berikan. Ada fraksi yang menentang dengan penjelasan panjang lebar dan dasar yang kuat, ada pula yang cenderung setuju dengan KM ITB serta memberikan banyak pandangan lain yang menambah wawasan kami. Tentunya wawasan tersebut jauh lebih luas daripada mahasiswa yang selama ini hanya melihat dari luar dan tentu sangat terpengaruh dengan apa yang dikatakan media. Dan intinya, semua sepakat untuk membawa aspirasi KM ITB ke dalam pembahasan RUU tax amnesty. 
 
Ya, kami menggunakan lift khusus Anggota DPR RI
Jujur, sebelum ini saya tidak tahu bahwa sebenarnya mahasiswa (atau siapapun) bisa benar-benar memberi aspirasi dengan cara yang baik. Sepenglihatan saya di media, yang dilakukan DPR adalah tidur, korupsi, bahkan nonton film porno saat rapat. Informasi tentang DPR yang benar-benar mejalankan fungsinya mewakili rakyat, baru saya dapatkan saat saya turun langsung bersama teman-teman KM ITB ini. Saya juga kembali berpikir, beberapa aspirasi kami serasa tidak ada apa-apanya dibanding bapak yang duduk di kursi DPR. Mereka (harusnya, dan ternyata memang) memiliki pandangan yang lebih menyeluruh akan suatu isu yang ada.
Aslinya, GBK bisa keliatan lebih bagus
Saya juga mulai mengerti bahwa DPR sudah memiliki sistem yang sangat kompleks, sangat teratur untuk menjadi sebaik-baiknya perwakilan rakyat. Dengan sekian banyak fraksi, tenaga ahli, media center di fraksi, anggota parlemen, penerima aspirasi rakyat, serta elemen-elemen lain sudah sangat mendukung. Mungkin benar, butuh orang yang baik untuk mengisi sistem yang sudah disusun rapi ini. Masalahnya seberapa banyak orang baik yang telah mengisi posisi strategis di DPR kita?

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Tweets